CREAMY.ID – 7 Amalan Sunnah Ramadan yang Sayang Dilewatkan Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap amalan yang dilakukan di bulan ini, baik yang wajib maupun sunnah, akan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amalan sunnah selama Ramadan. Ustaz Farid Nu’man Hasan menyebutkan bahwa ada banyak amalan sunnah yang bisa dikerjakan di bulan Ramadan, baik amalan qauliyah (ucapan) maupun fi’liyah (perbuatan).
Bulan Ramadan adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan mengamalkan sunnah-sunnah Ramadan, kita tidak hanya mendapatkan pahala yang berlipat ganda, tetapi juga meraih keberkahan dan rahmat dari Allah. Semoga kita diberi kekuatan dan kesempatan untuk mengamalkan sunnah-sunnah ini dengan ikhlas dan konsisten.
Contents
7 Amalan Sunnah Ramadan yang Sayang Dilewatkan
Berikut adalah tujuh amalan sunnah Ramadan yang sayang untuk dilewatkan, beserta dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Hadits.
1. Makan Sahur
Makan sahur adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sahur bukan hanya sekadar makan sebelum fajar, tetapi juga mengandung keberkahan. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةٌ
“Bersahurlah kalian, karena pada santap sahur itu ada keberkahan.”
(HR. Al-Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095)
Rasulullah juga bersabda:
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Makan sahur adalah berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walau kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah ‘Azza wa Jalla dan para malaikat mendoakan orang yang makan sahur.”
(HR. Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘Anhu)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan bahwa keberkahan sahur terletak pada kekuatan yang diberikan kepada orang yang berpuasa, sehingga ia lebih bersemangat dan ringan dalam menjalankan ibadah puasa.
2. Tadarus Al-Qur’an dan Mengkhatamkannya
Bulan Ramadan sering disebut sebagai “Syahrul Qur’an” (bulan Al-Qur’an), karena pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Tadarus Al-Qur’an, baik membaca maupun mempelajarinya, adalah amalan yang sangat utama di bulan Ramadan. Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menceritakan:
وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Jibril menemuinya pada tiap malam bulan Ramadan, dan dia (Jibril) bertadarus Al-Qur’an bersamanya.”
(HR. Al-Bukhari No. 3220)
Mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadan juga merupakan kebiasaan para salafush shalih. Imam Az-Zuhri Rahimahullah mengatakan, “Apabila masuk Ramadan, kegiatan utama kita adalah membaca Al-Qur’an dan memberi makan orang yang berpuasa.”
3. Bersedekah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanan Beliau semakin meningkat ketika bulan Ramadan. Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menceritakan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin menjadi-jadi saat Ramadan, apalagi ketika Jibril menemuinya. Dan, Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadan, dia bertadarus Al-Qur’an bersamanya. Maka, Rasulullah benar-benar sangat dermawan dengan kebaikan laksana angin yang berhembus.”
(HR. Al-Bukhari No. 3220)
Bersedekah di bulan Ramadan tidak hanya mendatangkan pahala yang besar, tetapi juga membantu meringankan beban orang lain.
4. Memberi Makanan kepada Orang yang Berbuka Puasa
Memberi makanan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa adalah amalan yang sangat mulia. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu.”
(HR. At-Tirmidzi No. 807, Ahmad No. 21676)
Amalan ini tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah.
5. Memperbanyak Doa
Doa adalah senjata utama seorang Muslim, terutama di bulan Ramadan. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوم
“Ada tiga manusia yang doa mereka tidak akan ditolak: (1) Doa orang yang berpuasa sampai dia berbuka, (2) Pemimpin yang adil, (3) Doa orang teraniaya.”
(HR. At-Tirmidzi No. 2526)
Memperbanyak doa, terutama saat berbuka puasa, adalah waktu mustajab untuk memohon kepada Allah.
6. Menyegerakan Berbuka Puasa
Menyegerakan berbuka puasa adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari Amru bin Maimun Radhiallahu ‘Anhu:
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْجَلَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سَحُورًا
“Para sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya.”
(HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra No. 7916)
Menyegerakan berbuka puasa menunjukkan rasa syukur kita atas nikmat Allah dan menjaga kesehatan tubuh.
7. I’tikaf di Asyrul Awakhir
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. I’tikaf sangat dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadan sampai beliau diwafatkan Allah, kemudian istri-istrinya pun i’tikaf setelah itu.”
(HR. Al-Bukhari No. 2026, Muslim No. 1171)
I’tikaf adalah momen untuk merenung, beribadah, dan mencari Lailatul Qadar.